Cybersex: Teknologi Dunia Menemukan Bumbu Sex

Posted in Uncategorized on April 11th, 2011 and

http://2.bp.blogspot.com/_PG9h1CS1dfo/SXXVqA-G8AI/AAAAAAAAG2Y/yJgEZFL1W4Q/s400/cybersex+notsomotivational+dot+com.jpg

Sex menemukan kecanggihannya. Namun apapun alasannya, teknologi tidak bisa disalahkan sepenuhnya, sebagaimana globalisasi selalu memiliki penemu-penemu yang mengubah dunia dalam sekejap. Perkembangan internet membuat aktivitas orang-orang menjadi lebih mudah. Internet yang bersifat open source tersebut sering terkesan sebagai alat bebas akses. Ya, bebas untuk melakukan apa saja. Chatting, forum, browsing, social networks, online shopping, dan sebagainya.

Internet memang sangat fenomenal di Indonesia. Berawal dari MIRC, sebuah software chatting yang sering dipakai orang-orang, Yahoo Messenger yang meraja lela, Facebook yang mendunia, sampai kepada new media lainnya yang masuk menjadi kultur baru di Indonesia. Istilah cyberguy, cyberdude, dan cybergirl pun muncul untuk merepresentasikan seseorang yang gemar melakukan aktivitas di internet dan bersosialisasi di social networks dengan chatting, aktif di forum, dan sebagainya.

Segalanya bisa terjadi di dunia maya. Termasuk fenomena cybersex yang kini menjadi rahasia umum bagi orang-orang. Situs porno bisa dibilang biang keladinya. Dengan melihat gambar-gambar porno, seseorang cenderung memiliki keinginan untuk lebih mendalam menikmati hal-hal yang berbau pornografi dan pornoaksi. Dari sinilah terciptanya kegiatan cybersex yang menggabungkan unsur chatting, forum, webcam, serta konten pornografi dan pornoaksi.

Fenomena sosial ini memang tergolong kontroversi. Jika berbicara soal moral, kita tidak berhak menuduh ini adalah kesalahan orang-orang yang menciptakan internet. Semua berawal dari permintaan dan kebutuhan. Teknologi apapun yang ada di dunia ini lahir karena kebutuhan dan permintaan, tidak terkecuali cybersex. Itu semua kembali kepada orang masing-masing. Semua orang bertanggung jawab untuk dirinya masing-masing. Apapun yang kita lakukan, pasti ada resikonya. Termasuk cybersex.

Aktivitas cybersex ada beberapa macam jenisnya. Pertama, kita akan mengenal solo webcam. Ini biasanya dilakukan oleh orang yang bersangkutan, merekam aktivitas seksualnya melalui webcam, kamera, ataupun handycam, lalu diunggah ke dalam situs sehingga orang-orang bisa melihat rekamannya di sana. Kedua, kita sudah familiar dengan aktivitas real time interaction yang disebut juga dengan webcam sex. Dengan berinteraksi antara dua orang atau lebih, mereka saling menunjukkan aktivitas seksualnya sampai pada puncak klimaksnya. Ketiga, online porn, di mana kita bisa melihat gambar-gambar dan video porno serta membaca cerita erotis di website yang bersangkutan. Kegiatan-kegiatan semacam ini tidak mengherankan bisa membuat banyak orang kecanduan untuk melakukan hal seperti ini berulang kali dan menjadi hobi terselubung mereka. Lagi-lagi, internet memeluk semua kalangan tanpa pandang bulu. Mulai dari orang dewasa sampai anak-anak dapat mengakses cybersex dengan bebas di Indonesia. Kecanduan adalah ujung tombak dari kegiatan ini yang sangat berbahaya jika terjadi. Melakukan sesuatu yang berlebihan dan fanatik sangat tidak baik bagi individu, karena akan mempengaruhi kehidupannya dan lingkungan sekitar. Pemerkosaan, angka keperawanan yang menurun di Indonesia, penculikan, dan pembunuhan seperti mengkambinghitamkan cybersex seakan-akan menjadi salah satu faktor-faktor tersebut.

Jakarta, 10 April 2011

Oleh: Irfandy Hamzah, Putri Marissa, Natasha Fransiska, dan Zefanya Gloria.

Teknologi: Memudahkan Atau Menghancurkan?

Posted in Uncategorized on Maret 28th, 2011 and tagged , , , ,

Ketika orang-orang dihadapkan oleh globalisasi, beberapa orang mengikutinya dan beberapa yang lainnya menolaknya. Hal ini sangat wajar terjadi ketika globalisasi menyebar ke segala penjuru. Berbagai distorsi komunikasi yang dihasilkan dari globalisasi itu sendiri kadang-kadang masih banyak terjadi di antara kita, seperti misalnya internet yang sewaktu-waktu bisa disalahgunakan, penyampaian pesan yang salah, sampai kepada human error yang kerap terjadi di kehidupan sehari-hari dalam menggunakan teknologi.

Teknologi yang mengalir bersama dengan globalisasi di Indonesia terus menerus berkembang seiring dengan negara kita yang terus bergerak ke arah yang lebih baik dalam segi sistem operasi di setiap aspek-aspek pembangunannya. Hal ini membuat teknologi yang didapatkan oleh Indonesia sangat variatif sekali. Setiap negara yang berkembang selalu mendapatkan teknologi yang terdistribusikan dengan baik dari negara-negara super power seperti Amerika, Jepang, dan lain-lainnya.

Contohnya teknologi komunikasi seperti smartphone yang berkembang pesat pasarnya di Indonesia. Blackberry adalah contoh nyatanya. Kebanyakan orang menikmati fasilitas smartphone sebagai alat komunikasi yang efektif dan menjadi sesuatu yang pas untuk para penggemar gadget. Orang Indonesia mulai mengenal chatting dan browsing pada awal 90-an, namun sistem operasi yang berjalan tidaklah secepat di era 2000-an sekarang ini. Semua orang seperti tidak bisa lepas dari internet, smartphone, mp3 player, dan masih banyak lagi.

Evolusi teknologi sangat menyebar dengan cepat di Indonesia, bahkan segala kalangan bisa menikmati fasilitas itu. Namun sayangnya kemajuan teknologi itu dimanfaatkan dan dieskploitasi berlebihan sehingga dapat menghancurkan beberapa industri.

Hal ini membuat teknologi memiliki dua sisi, yaitu sisi positif dan sisi negatif. Jika dilihat dari posisi positif, teknologi banyak membantu kita di dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kecil saja, kita bisa membeli barang di toko tanpa harus keluar dan mengalami macet di jalan dengan hanya menggunakan cara online shopping yang sudah banyak ditawarkan di toko-toko makanan, elektronik, dan sebagainya. Kita bisa mendapatkan berita terkini lewat jejaring sosial seperti Twitter. Ini membuktikan bahwa teknologi memudahkan segalanya dalam beraktivitas.

Namun tekonologi tidak lepas dari sisi negatif juga. Misalnya, pembajakan lagu dan film. Dengan adanya jaringan internet yang sangat cepat, kita bisa mengunduh film-film, software, dan musik-musik dengan cepatnya dan instan. Hal inilah yang membuat industri rekaman dan industri film rugi besar dan memasukkan negara Indonesia sebagai negara yang paling terkenal dengan tingkat pembajakannya. Sampai-sampai perusahaan Apple tidak mau membuka iTunes store—toko musik mp3 online yang disediakan oleh Apple—karena melihat tingkat pembajakan di Indonesia yang sangat tinggi.

Dari situ kita bisa menyimpulkan peran tekonologi di dalam segala aspek kehidupan kita. Segala sesuatu pasti bisa berdampak baik atau buruk. Tergantung bagaimana kita mengolah tekonologi itu sendiri. Jika kita mengeksploitasinya dan menyalahgunakannya, jelas akan menimbulkan masalah dalam proses globalisasi nantinya. Tapi jika digunakan dengan baik dan dikembangkan secara terus menerus, teknologi akan selalu maju dan menjadi lebih baik ke depannya.

Jakarta, 28 Maret 2011

Oleh:  Irfandy Hamzah, Putri Marissa, Natasha Saphira, dan Zefanya Gloria

Evolusi Social Media di Dunia: Sejauh Mana Mereka Mempengaruhi Kita?

Posted in Uncategorized on Maret 21st, 2011 and tagged , , , , , ,


Booming internet melanda Indonesia sejak 2000-an awal dan mulai saat itu juga masyarakat menyukai  aktivitas browsing, chatting, dan memanfaatkan internet sebagai alat komunikasi. Seperti MIRC yang sempat menjadi icon chatting anak-anak muda, lalu tergeser karena produknya yang sudah ketinggalan inovasi dibandingkan dengan Windows Live Messenger dan Yahoo! Messenger, Skype, dan sebagainya.  Perkembangan globalisasi tidak sampai sebatas itu saja. Sekitar 2004-2005, muncul berbagai social media  seperti Friendster yang merangkul jutaan orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dengan berbagai inovasi terbarunya seperti profil lengkap, album foto, dan posting komentar, membuat Friendster digemari banyak orang. Seiring waktu berjalan, tiba-tiba kemunculan Facebook menggemparkan populasi manusia di dunia dengan berbagai macam aplikasi hiburan seperti games, quiz, dan sebagainya. Tidak sampai di situ saja, bahkan Facebook memiliki group page, fan page, dan music page! Di samping itu kehadiran Youtube sebagai social media yang menyediakan akun untuk menunggah video pun ikut sukses mengundang jutaan orang untuk mengaksesnya.

Social Media sendiri berperan sebagai wadah interaksi sosial lewat jaringan internet yang kita kenal sebagai dunia maya. Dari sini fungsi internet pun meluas, kini tidak hanya sekedar melihat dunia luar dengan duduk di depan komputer atau laptop, namun menjadi alat komunikasi sehari-hari untuk selalu komunikatif terhadap keluarga, teman, maupun rekan kerja.


Sejauh Mana Social Media Mempengaruhi Kehidupan Kami?

Generasi kami disebut juga dengan generasi Digital Native, yaitu orang-orang yang lahir di antara tahun 1980-sekarang. Mengapa disebut Digital Native? Karena generasi yang lahir di periode tahun tersebut akan dihadapkan dengan kultur digital dan globalisasi secara merata sebagian besarnya. Maka dari itu wawasan dan cara pemikiran generasi ini tidak sama dengan kelahiran di bawah 1980 (yaitu 1979 dan seterusnya). Kelahiran di bawah tahun tersebut disebut generasi Digital Immigrant, yaitu orang-orang yang harus beradaptasi dengan kultur digital dan menghadapi evolusi globalisasi. Namun pada dasarnya, kedua generasi ini saling membutuhkan satu sama lain. Generasi digital native perlu edukasi dari generasi digital immigrant yang lebih dulu beradaptasi dan menghadapi globalisasi yang kemudian disebarkan, diedukasikan kepada generasi digital native. Sehingga generasi digital native menerima hasil dari proses adaptasi kultur teknologi digital dan globalisasi tersebut. Salah satu bentuk dari kultur teknologi digital yang dimaksud di sini adalah social media.

Social media sudah berpengaruh banyak dalam kehidupan kami. Bisa dibilang kami hampir menggunakan social media setiap hari. Sudah menjadi rutinitas dan tanpa kita sadari bahwa kita tetap menggunakan social media mulai dari berkomunikasi dengan teman, menyalurkan hobi (seperti menulis, mengunggah rekaman musik dan video, dan lain-lain), menjalankan wirausaha, sampai dengan memanfaatkan new wave marketing—sebuah teknik marketing dengan memaksimalkan fungsi social media dalam setiap promo campaign-nya.

Banyak hal yang bisa kita lakukan terhadap social media selain berinteraksi seperti di situs Facebook. Hampir semua orang di Indonesia mempunyai akun Facebook. Dengan Facebook, kita dapat berbicara dengan teman satu kuliah atau satu kerja atau bahkan dengan  teman yang sudah lama tidak pernah bertemu sekalipun dengan cepat dan tentu lebih praktis, ditambah sekarang orang dapat mengakses facebook dengan Handphone yang memudahkan mereka untuk mengakses Facebook. Di samping itu, Facebook pun memiliki kelebihan yang tak kalah serunya. Ada aplikasi Group Page dapat dipakai untuk bergabung dengan orang-orang yang memiliki satu visi dan misi terhadap objek tertentu. Fan Page dan Music Page juga sangat membantu orang-orang untuk menemukan deskripsi dan info dari musisi atau public figure tertentu.

Twitter memiliki jutaan account yang tak terhitung jumlah pastinya, kini kita tidak hanya bisa mengetik “what’s happening” saja, namun kita bisa berinteraksi kepada teman-teman, public figure, organisasi-organisasi, public service, dan alter ego account yang bisa menghibur kita setiap saat di timeline. Kami mengaktifkan aplikasi Twitter di smartphone setiap hari hanya untuk mendapatkan kabar dari teman, mengakses berita terkini, bermain bersama akun alter ego yang sangat menghibur, sampai dengan mempromosikan sesuatu kepada teman-teman kami. Tapi jika dibandingkan dengan Facebook, tingkat keintiman Twitter terhadap penggunanya lebih dekat dibandingkan dengan Facebook. Twitter memudahkan kita untuk berinteraksi dengan public figure sampai artis hollywood. Selama ini belum ada yang mampu mendekatkan kita dengan mereka, dengan mengetahui mereka sedang apa, quotes mereka yang inspiratif, melihat foto mereka lewat aplikasi Twitpic, itu semua nyata dan bukan hoax, seperti Facebook yang bisa dengan mudahnya dimanipulasikan akunnya.

Dengan adanya social media, pandangan kita tidak hanya sebatas sekeliling kita saja, namun seluruh dunia bisa kita lihat dengan hanya mengetik dan meng-klik. Kami bisa belajar lewat social media, mendapatkan kasus-kasus yang muncul di social media untuk dijadikan bahan tugas penelitian dan masih banyak lagi.

Jakarta, 21 Maret 2011

Oleh: Irfandy Hamzah, Putri Marissa, Natasha Saphira, dan Zefanya Gloria